-->
Titik Nadir Jurnalisme
Pixaby


Jika anda memilih profesi sebagai wartawan berarti anda harus siap menghadapi segala macan resikoyang akan anda hadapi, memang setiap pekerjaan pasti memliki resiko nya masing-masing yang harus dihadapi. Namun profesi sebagai wartawan bisa dibilang merupakan sebuah anugerah, karena menurut saya wartawan adalah seorang yang paling berperan dalam negara dengan segala karyanya. Namun sifat netralitas seorang wartawan sering dipertanyakan, terlebih sekarang media tidak hanya dituntut untuk menjadi media kontrol tapi juga media bisnis yang berorientasi profit. Disinilah posisi dilematis yang harus dihadapi para wartawannya. Wartawan harus berorientasi profit untuk tetap bertahan, plus bersaing secara ketat dengan wartawan lain dan media-medianya yang berebut pembaca dan iklan tentunya, namun tetap mempertahamkan idealismenya.

Para wartawan juga kadang tidak terhindar dari godaan-godaan rupiah sehingga karya jurnalistiknya keluar dari fakta dan penuh dengan bumbu-bumbu pesanan sang narasumber dan pemberi iklan. Akibatnya ada wartawan yang biasanya dijuluki sebagai “wartawan amplop” tujuannya bukan mengejar berita, tetapi uang. Adanya ulah oknum wartawan seperti ini sangatlah disayangkan dan jelas akan merusak citra dunia jurnalistik yang seharusnya menghasilkan karya yang benar, akurat, jujur, apa adanya dan dapat dipertanggung jawabkan. Oknum wartawan seperti ini tentunya sangat tidak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik yang disusun oleh Dewan Pers dan bisa menjatuhkan marwah dan harga diri wartawan yang profesional. Mereka justru membuat keprofesian wartwan menjadi buruk di mata masyarakat. Seperti yang terjadi di Banten baru-baru ini sekolompok wartawan melakukan pemerasan kepada seorang kepala sekolah MTs di daerah Bojonegara, Kabupaten Serang.

Oknum wartawan ini mengancam akan menyebarluaskan dugaan pungutan liar terhadap wali murid yang dilakukan oleh Kepala Sekolah tersebut ke seluruh media surat kabar. Hal tersebut sudah jelas melanggar Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran:

  • Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
  • Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Kejadian tersebut bukanlah hal yang baru di dunia wartawan karena masih banyak lagi kisah seperti ini di daerah lainnya di Indonesia, hanya saja tidak terekspose oleh media. Bagimanapun tidak ada sebab tanpa akibat, pastinya selalu ada alasan utama mengapa para wartawan melakukan praktek pemerasan tersebut. Wartawan memang terus dituntut untuk selalu jujur dalam pekerjaannya, namun ketika hak-hak wartawan belum terpenuhi terutama dalam kesejahteraan ekonomi yang layak, tidak heran kita masih akan menemui banyak praktek pemerasan oleh wartawan. Jadi pemenuhan hak-hak wartawan penting agar mereka jauh dari tindakan yang berujung kriminalistas sehingga mereka akan selalu mematuhi prinsip-prinsip jurnalistik dan kode etik profesi dalam menjalankan tugasnya.

Belum lagi tidak adanya Serikat Profesi yang bisa memperjuangkan nasib wartawan dalam menjalankan tugasnya. Sehingga tidak ada wadah untuk menyampaikan aspirasi, ditambah lagi banyak media besar yang tidak menyetujui pembentukan serikat profesi wartawan karena mereka menganggap hal tersebut nantinya dapat menjadi bumerang bagi media itu sendiri. Secara tidak langsung sistem kepegawaian wartawan di Indonesia tidak jauh berbeda dengan buruh karena wartwan dicekoki perusahaan sebagai kaum profesional untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya bagi media korporasi itu sendiri, para konglomerat media memberikan beban kerja wartawan yang berat namun semua itu tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan jaminan keselamatan dalam bertugas.

Fenomena ini pun disayangkan oleh semua pihak terutama AJI, yaitu sebuah asosiasi yang membawahi para jurnalis di Indonesia, AJI mengatakan hanya ada 40 persen perusahaan media yang memberi gaji layak untuk wartawan. Bisa dikatakan kesejahteraan jurnalis di Indonesia berada di titik nadir, di titik yang paling rendah. Apalagi saat ini jurusan jurnalisme di universitas-universitas yang ada di Indonesia semakin berkurang peminatnya karena profesi sebagi wartawan dianggap kurang menjajikan seperti yang telah diuraikan diatas. Hal tersebut sangat disayangkan karena Pers merupakan pilar keempat demokrasi yang telah dijamin kemerdekaannya dan diakui keberadaannya oleh UUD 1945, seperti halnya tiga pilar demokrasi lainnya, yakni kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Bayangkan apa yang terjadi jika tidak ada lagi generasi muda yang ingin menjadi wartawan di negeri ini, jurnalisme tidak lagi dianggap sebagi profesi yang mulia. Bisa jadi korporasi media akan mempekerjakan para freelance dan stringer yang pada dasarnya bisa di bayar murah ditambah tidak adanya kontrak kerja yang memberikan tunjangan tranportasi, kesehatan dan sebagainya, para freelance dan stringer juga tidak memiliki kemampuan yang layak sebagai wartawan. Jika dilihat keadaan saat ini bisa jadi indonesia sedang menuju ke arah tersebut, oleh karena itu jangan heran melihat para wartawan di televisi yang memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak cerdas ke narasumber.

Saya sangat berharap agar para wartawan di Indonesia memilki penghasilan yang layak yang sesuai dengan keahlian mereka jangan sampai profesi wartawan dipandang sebelah mata oleh generasi masa kini, saya yang notabene merupakan salah satu mahasiswa ilmu jurnalistik justru menganggap profesi wartawan merupakan sebuah pekerjaan yang memilki integritas yang tinggi dan pengaruhnya bagi negara amat sangat dirasakan.

Peran korporasi media dalam menaungi para wartawan harus lebih bisa memberikan kesejahteraan yang layak agar tidak ada lagi para wartawan yang bertindak diluar kode etik demi memenuhi kebutuhan ekonomi
Dhenim Prianka

Experienced Freelance Videographer with a history of working in the broadcast media industry. Skilled in Photography, Videography, Video Editing, and Camera Operation.

Contact Us

Phone :

+62 838 7442 5955

Address :

Jl. Gainjar No. 19, Kab. Tangerang
Banten, Indonesia

Email :

prianka.dhenim@gmail.com