-->

Welcome!

I am Dhenim Prianka Videographer Video Creator

View Work Hire Me!

About Me

Videography
Broadcast
Design
Who am i

@dhenimprianka.

Videographer

Experienced Freelance Videographer with a history of working in the broadcast media industry. Skilled in Photography, Videography, Video Editing, and Camera Operation.

Strong arts and design professional with a Bachelor of Science Communication focused in Broadcast Journalism from Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Services

Camera

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Development

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Branding

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Marketing

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Blog

Lingkaran Politik, Bisnis dan Keluarga

Photo: http://pacificpolicy.org/2015/09/by-elections-dynasty-politics-and-saving-costs/

Sejak masyarakat Banten terkejut oleh penangkapan adik kandung Gubernur Banten beberapa bulan yang lalu, yaitu Tb Chaeri Wardana yang lebih akrab dipanggil Wawan dalam kasus penyuapan terhadap ketua Mahkamah Konstitusi terkait sengketa Pilkada Kabupaten Lebak. KPK pun langsung bereaksi terhadap kasus tersebut dan langsung mengeluarkan larangan berpergian keluar negeri untuk sang kakak, yaitu Ratu Atut Choisiyah.


Media pun gencar melakukan pemberitaan terhadap kasus tersebut sehingga mendongkrak “popularitas” Ratu Atut Choisiyah, dan berujung pada terusiknya Dinasti Politik di Banten yang sejak lama tidak tersentuh oleh media nasional. Entah kemana masyarakat Banten selama ini yang tidak menyadari bahwa ada sebuah dinasti yang mengusai Banten dengan segala pengaruh kekuasaan yang kuat didalamnya. Atau ternyata kita tahu, hanya saja kita tidak mau pusing memikirkan cara mengungkapkannya dan bersikap apatis berpura-pura tidak tahu.

Sayangnya kondisi politik dinasti di Banten seperti ini tampaknya kurang mendapat perhatian masyarakat Banten, karena pada beberapa daerah di banten masyarakatnya belum memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan pengawasan terhadap pemerintahnya. Hal ini sangat miris karena setelah reformasi 1998 Indonesia sedang memulai era demokrasi politik yang bersih, namun oknum elit politik justru memanfaatkannya untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa kita harus menyalahkan sistem atau kita menyalahkan sikap kita yang seakan-akan tunduk oleh kekuatan dengan berbagai tindakan dan komunikasi politik yang digunakan untuk menutupi praktek tersebut sehingga terbentuk opini di masyarakat Banten yang membuat praktek dinasti politik adalah hal yang masih dianggap dalam batas kewajaran.

Praktek ini diawali ketika Ratu Atut Choisiyah terpilih menjadi Gubernur Banten melalui pilkada pada tahun 2006 yang menuai banyak kontroversi. Ratu Atut sendiri merupakan anak dari tokoh sentral banten Yaitu H. Tb. Chasan Sochib, yang juga pemimpin tunggal kelompok paling dominan di Banten yang sering disebut kelompok “Rau”. Ayanya sangat berperan dalam menjadikan atut seorang politikus, lewat lobi-lobi politiknya dengan salah satu partai berkuasa saat itu berhasil memasukan Atut ke dalam kepengurusan partai. Penguasan dalam posisi kunci partai di tingkat kota dan provinsi adalah kunci dinasti ini dapat memuluskan jaring kekuasaannya.

Hingga saat ini ada beberapa anggota keluarga mulai dari anak, menantu hingga saudara ipar yang menjabat posisi penting di Banten. Diantaranya yaitu suami Ratu Atut, Alm. Hikmat Tomet yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar Banten. Rencananya Hikmat akan dipercaya kembali oleh Golkar untuk mengikuti pemilu legislatif 2014 dari dapil Banten 2, namun pada tanggal 9 November lalu karena penyakit stroke ia meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto.

Lalu anak pertama Ratu Atut, Andika Hazrumy berstatus anggota DPD yang kini mencalonkan diri sebagai anggota DPR di dapil Pandeglang-Lebak. Adik Andika, yakni Andiara Aprilia kini mencalonkan diri sebagai anggota DPD. Hingga menantu Ratu Atut, istri dari Andika, yakni Ade Rosi Khaerunissa menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Serang. Dia pun mendaftar sebagai caleg DPRD Banten dari Partai Golkar. Kemudian Kakak kandung Ratu Atut, Tatu Chasanah merupakan Wakil Bupati Serang. Dan yang paling segar adalah kakak tiri Ratu Atut, Haerul Jaman yang baru terpilih sebagai Walikota Serang. Disusul adik ipar Ratu Atut, Airin Rachmi Diany merupakan Walikota Tangerang Selatan sejak 2011. Dan yang terakhir adalah Ibu tiri Ratu Atut, yaitu Heryani yang merupakan istri ke empat dari ayahnya yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Pandeglang.

Menurut Harol D. Laswell, “Politics is who gets what, when, and how”. Tidak heran mengapa banyak keluarga dari Ratu Atut Choisiyah mendapatkan jabatan – jabatan yang strategis di berbagai lini pemerintahan, semua itu diawali dengan menempatkan anggota keluarga diposisi vital, yaitu Seorang Gubernur tentunya yang diharapkan dapat membantu anggota keluarga lainnya dikemudian hari. Bila ditinjau dari ilmu komunikasi, pencitraan yang dilakukan oleh Ratu Atut Choisiyah dalam menjalankan roda pemerintahannya juga sangat membantu proses terbentuknya politik dinasti ini. Atut memang termasuk jarang tampil di televisi, namun ia memiliki strategi pencitraan yang luar biasa nyaris menyamai politisi - politisi besar di negeri ini. Melalui puluhan baliho yang terpampang di berbagai sudut jalan, hingga gedung-gedung pelayanan masyarakat sukses membuat warga Serang dan sekitarnya seakan-seakan di hipnotis oleh kemajuan Provinsi Banten yang semu.

Nyatanya bila menurut berdasarkan ilmu hukum tata Negara dan politik tidak ada aturan perundangan yang melarang kehadiran dinasti politik. Karena itu merupakan hak politik setiap warga negara, apa pun latar belakang keluarganya. Asal yang bersangkutan memiliki kapasitas untuk menjalankannya, publik mempercayainya, dan tidak melanggar aturan dalam memperoleh jabatan tersebut, maka tidak ada alasan untuk melarang siapapun berpolitik hanya karena latar belakang keluarga yang bersangkutan.

Akan tetap dibutuhkan kesadaran atas norma, etika dan nilai kepatutan bagi mereka yang sadar akan posisinya yang berada di dalam sebuah jabatan penting. Karena apabila kekuasaan bertemu dengan bisnis maka sangatlah mungkin akan terjadinya penyimpangan-penyimpangan seperti yang di bicarakan oleh presiden beberapa waktu lalu.

Dinasti Politik bisa menjadi upaya untuk mematikan demokrasi di suatu provinsi. Terutama di Banten yang masih sangat membutuhkan banyak pembelajaran tentang demokrasi yang sesungguhnya di usianya yang relatif muda. Publik pun wajib mengawasi sepak terjang semua politisi, termasuk para anggota dinasti politik dan tetap waspada terhadap apapun yang dilakukan oleh para pemimpinnya.

Ulang tahun Banten yang ke-13 ini merupakan sebuah berkah, karena momentum hadir untuk memberikan kesempatan agar hukum tidak hanya tersimpan di dalam laci meja para hakim dan jaksa di provinsi ini (Banten).

Dhenim Prianka

“Update Status” Jadi Kebutuhan Masa Kini

Pixaby


Jejaring sosial menjadi candu bagi banyak masyarakat Indonesia khusunya kaum remaja ababil. Kehadirannya membawa perubahan positif maupun negatif yang berdampak bagi kita dan hubungan sosial dengan orang lain. Kini semeua kalangan menggunakan jejaring sosial guna melakukan komunikasi satu sama lain. Hingga hal yang dulu dianggap privasi kini dapat menjadi konsumsi umum, mengumbar segala informasi tentang dirinya agar dapat dilihat oleh orang lain.

Mulai tahun 2002, perkembangan teknologi informasi memasuki era social networking website atau media sosial. Lewat Friendster (2002), Myspace (2003), Facebook (2004), setiap orang bisa menjadi “media”. Siapapun dapat menyebarkan opininya secara lebih luas dan berdiskusi menggunakan media sosial. Saling bertukar informasi dalam bentuk tulisan, foto, rekaman suara, video. Kegiatan menulis di blog yang disebut blogging, menulis status lewat twitter membuat masyarakat di zaman sekarang menjadikan media sosial sebagai kebutuhan hidup yang tidak bisa terpisahkan, sehingga meng-update status seolah-olah adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan layaknya kebutuhan sandang, papan, pangan dan ekonomi.

Disadari atau tidak, jejaring sosial memang telah mengubah gaya hidup banyak orang. Zaman dahulu kehidupan masyarakat dapat hidup tenang tanpa kehadiran jejaring sosial di tengah-tengah mereka. Sedangkan di zaman ini sebagain besar remaja dan orang dewasa dapat dikatakankan tidak bisa hidup tanpa teknologi seperti internet, smartphone, dan jejaring sosial tersebut. Padahal fungsi sesungguhnya dari media social adalah sebagai pembuka jalan menuju media baru yang memperlebar kesempatan untuk berdialog, bertukar pikiran dan berbagi pengetahuan dan informasi. Sayangnya oleh sebagian kaum remaja di Indonesia, media sosial justru digunakan sebagai sarana menunjukan gengsi untuk membentuk stereotip dirinya sebagai generasi yang gaul, beberapa orang menyebut kelompok ini alay.

Jejaring sosial meningkatkan rasa ingin tahu yang besar di masyarakat, membuat masyarakat ingin selalu update akan informasi dan trend saat ini, serta membuat masyarakat lebih membuka diri dan keseharian mereka lewat situs sosial yang dapat dikunjungi oleh banyak orang melalui status-status yang diposting oleh invidu itu sendiri. Beberapa individu merasa mengupdate status adalah sebuah hal yang dianggap bagus dan dapat menaikan status sosial individu tersebut.

Padahal jejaring sosial juga memiliki efek negatif bagi individu dan orang lain, diantaranya dapat menghilangkan waktu untuk bersosialisasi dan berinteraksi secara langsung yang dianggap lebih efektif. Karena kehadiran jejaring sosial merubah cara berinteraksi setiap individu, seringnya menggunkan situs jejaring sosial membuat individu asyik dengan hidupnya sendiri, banyak sekali waktu yang tersita dengan sia – sia, padahal waktu itu bisa dipakai untuk berinteraksi dengan orang lain yang merupakan prinsip dasar dari Interpersonal Communication.

Menurut saya perkembangan media social memang luar biasa bermanfaat, tetapi sebagai remaja seharusnya kita bisa lebih menggunakan sarana tersebut sesuai dengan kaidahnya. Jangan malah kita menggunakan untuk menghabiskan waktu yang sangat berharga hanya demi mengupdate kata-kata atau foto-foto yang tidak ada manfaatnya dan mengganggu privasi orang lain. Media memang diciptakan untung memudahkan komunikasi antara manusia akan tetapi jangan sampai kemudahan tersebut justru malah membuat perubahan sifat sosial yang mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi. Gunakan media sosial dengan sebijaksana mungkin.

Dhenim Prianka

Titik Nadir Jurnalisme

Pixaby


Jika anda memilih profesi sebagai wartawan berarti anda harus siap menghadapi segala macan resikoyang akan anda hadapi, memang setiap pekerjaan pasti memliki resiko nya masing-masing yang harus dihadapi. Namun profesi sebagai wartawan bisa dibilang merupakan sebuah anugerah, karena menurut saya wartawan adalah seorang yang paling berperan dalam negara dengan segala karyanya. Namun sifat netralitas seorang wartawan sering dipertanyakan, terlebih sekarang media tidak hanya dituntut untuk menjadi media kontrol tapi juga media bisnis yang berorientasi profit. Disinilah posisi dilematis yang harus dihadapi para wartawannya. Wartawan harus berorientasi profit untuk tetap bertahan, plus bersaing secara ketat dengan wartawan lain dan media-medianya yang berebut pembaca dan iklan tentunya, namun tetap mempertahamkan idealismenya.

Para wartawan juga kadang tidak terhindar dari godaan-godaan rupiah sehingga karya jurnalistiknya keluar dari fakta dan penuh dengan bumbu-bumbu pesanan sang narasumber dan pemberi iklan. Akibatnya ada wartawan yang biasanya dijuluki sebagai “wartawan amplop” tujuannya bukan mengejar berita, tetapi uang. Adanya ulah oknum wartawan seperti ini sangatlah disayangkan dan jelas akan merusak citra dunia jurnalistik yang seharusnya menghasilkan karya yang benar, akurat, jujur, apa adanya dan dapat dipertanggung jawabkan. Oknum wartawan seperti ini tentunya sangat tidak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik yang disusun oleh Dewan Pers dan bisa menjatuhkan marwah dan harga diri wartawan yang profesional. Mereka justru membuat keprofesian wartwan menjadi buruk di mata masyarakat. Seperti yang terjadi di Banten baru-baru ini sekolompok wartawan melakukan pemerasan kepada seorang kepala sekolah MTs di daerah Bojonegara, Kabupaten Serang.

Oknum wartawan ini mengancam akan menyebarluaskan dugaan pungutan liar terhadap wali murid yang dilakukan oleh Kepala Sekolah tersebut ke seluruh media surat kabar. Hal tersebut sudah jelas melanggar Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran:

  • Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
  • Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Kejadian tersebut bukanlah hal yang baru di dunia wartawan karena masih banyak lagi kisah seperti ini di daerah lainnya di Indonesia, hanya saja tidak terekspose oleh media. Bagimanapun tidak ada sebab tanpa akibat, pastinya selalu ada alasan utama mengapa para wartawan melakukan praktek pemerasan tersebut. Wartawan memang terus dituntut untuk selalu jujur dalam pekerjaannya, namun ketika hak-hak wartawan belum terpenuhi terutama dalam kesejahteraan ekonomi yang layak, tidak heran kita masih akan menemui banyak praktek pemerasan oleh wartawan. Jadi pemenuhan hak-hak wartawan penting agar mereka jauh dari tindakan yang berujung kriminalistas sehingga mereka akan selalu mematuhi prinsip-prinsip jurnalistik dan kode etik profesi dalam menjalankan tugasnya.

Belum lagi tidak adanya Serikat Profesi yang bisa memperjuangkan nasib wartawan dalam menjalankan tugasnya. Sehingga tidak ada wadah untuk menyampaikan aspirasi, ditambah lagi banyak media besar yang tidak menyetujui pembentukan serikat profesi wartawan karena mereka menganggap hal tersebut nantinya dapat menjadi bumerang bagi media itu sendiri. Secara tidak langsung sistem kepegawaian wartawan di Indonesia tidak jauh berbeda dengan buruh karena wartwan dicekoki perusahaan sebagai kaum profesional untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya bagi media korporasi itu sendiri, para konglomerat media memberikan beban kerja wartawan yang berat namun semua itu tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan jaminan keselamatan dalam bertugas.

Fenomena ini pun disayangkan oleh semua pihak terutama AJI, yaitu sebuah asosiasi yang membawahi para jurnalis di Indonesia, AJI mengatakan hanya ada 40 persen perusahaan media yang memberi gaji layak untuk wartawan. Bisa dikatakan kesejahteraan jurnalis di Indonesia berada di titik nadir, di titik yang paling rendah. Apalagi saat ini jurusan jurnalisme di universitas-universitas yang ada di Indonesia semakin berkurang peminatnya karena profesi sebagi wartawan dianggap kurang menjajikan seperti yang telah diuraikan diatas. Hal tersebut sangat disayangkan karena Pers merupakan pilar keempat demokrasi yang telah dijamin kemerdekaannya dan diakui keberadaannya oleh UUD 1945, seperti halnya tiga pilar demokrasi lainnya, yakni kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Bayangkan apa yang terjadi jika tidak ada lagi generasi muda yang ingin menjadi wartawan di negeri ini, jurnalisme tidak lagi dianggap sebagi profesi yang mulia. Bisa jadi korporasi media akan mempekerjakan para freelance dan stringer yang pada dasarnya bisa di bayar murah ditambah tidak adanya kontrak kerja yang memberikan tunjangan tranportasi, kesehatan dan sebagainya, para freelance dan stringer juga tidak memiliki kemampuan yang layak sebagai wartawan. Jika dilihat keadaan saat ini bisa jadi indonesia sedang menuju ke arah tersebut, oleh karena itu jangan heran melihat para wartawan di televisi yang memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak cerdas ke narasumber.

Saya sangat berharap agar para wartawan di Indonesia memilki penghasilan yang layak yang sesuai dengan keahlian mereka jangan sampai profesi wartawan dipandang sebelah mata oleh generasi masa kini, saya yang notabene merupakan salah satu mahasiswa ilmu jurnalistik justru menganggap profesi wartawan merupakan sebuah pekerjaan yang memilki integritas yang tinggi dan pengaruhnya bagi negara amat sangat dirasakan.

Peran korporasi media dalam menaungi para wartawan harus lebih bisa memberikan kesejahteraan yang layak agar tidak ada lagi para wartawan yang bertindak diluar kode etik demi memenuhi kebutuhan ekonomi
Dhenim Prianka

Contact Us

Phone :

+62 838 7442 5955
+62 813 8173 9530

Address :

Jl. Gainjar No. 19, Kab. Tangerang
Banten, Indonesia

Email :

prianka.dhenim@gmail.com